Menguap Vs Bersin

Image

“Hoaaaaaaammmm…..”. Rasya menguap lebar.“Aduh, kamu kalo menguap ya di tutup donk dek.” Protes Sabil pada adiknya.

“Kenapa sih Kak ? Masalah sepele ajah kok di bikin ribut, aku kan cuma menguap Kak.”

Tak mau kalah dengan sang kakak, Rasya pun membela diri.
“Ck ck ck… dek, kamu pernah dengar tidak kalau Allah itu tidak suka dengan menguap?” Tanya Sabil

Dengan rasa heran, Rasya menjawab, “Kayaknya aku pernah dengar deh Kak.”

Sabil tersenyum mendekati adiknya yang kebingungan, “zaman sekarang banyak kebiasaan kecil yang luput dari perhatian kaum muslim, masalah kebiasaan yang sebenarnya telah di ajarkan Rasulullah sebagai tauladan terbaik kita, termasuk masalah menguap tadi.”

“Terus Kak ?” Tanya Rasya bersemangat.

“Dalam hadits di sebutkan “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin [1].”

“Jadi, walaupun tidak tahan ingin menguap lebar, sebaiknya di tutup gitu Kak ?”
“Nah, itu kamu tahu, terus kenapa kamu tidak menutup mulutmu ?”

“Hehehe, aku pikir itu hanya masalah sepele Kak.”

“Itu dia, banyak orang tidak memperhatikan masalah ini. Memang terlihat sepele tapi dalam Islam hal sepele pun sudah diatur dengan sebaik-baiknya.

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdulillah’). Dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya. Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya [2].” Sabil menjelaskan panjang lebar.

“Wuih, serem ya Kak, di ketawain ma setan.” Kata Rasya sambil bergidik.

“Iya dek, padahal menurut kakak tidak sulit loh hanya mengangkat tangan dan menutup mulut ketika menguap, tidak melelahkan sama sekali.”Sabil menegaskan.

“Jadi usahakan di mulai dari hal kecil kita memperhatikan perilaku kita supaya elok di pandang orang dan Allah suka itu.” Sabil menambahkan.

“Padahal Rasya juga kalau melihat orang yang menguap lebar di depan banyak orang terus dia tidak menutup mulutnya sampai terlihat semua isi mulutnya kok rasanya gimana gitu Kak, tidak enak di lihat, apalagi kalau misalkan sebelumnya dia makan sesuatu yang menimbulkan bau…. Uuuhh… mantap sekali pasti aromanya.” Papar Rasya sambil terkekeh.

“Tuh kan, kamu saja tidak suka melihat orang lain menguap lebar tanpa di tutup, makanya mulai sekarang kamu juga harus merubah kebiasaan burukmu itu.” Kata Sabil menasihati Rasya.

“Hhmm… iya ya Kak. Aku sampai mikir gimana ya jadinya kalau aku menguap lebar terus tidak aku tutup, eehh ada binatang masuk ke mulutku…” Rasya pun menerawang.

“Hahahahahaha…. Pastinya itu bakal jadi santapan gratis mu dek.” Sabil tertawa lebar.

“Kakak juga jangan tertawa terlalu lebar, nanti ada nyamuk masuk loh.” Rasya tidak mau kalah.

“Uppss.” Sabil pun refleks menutup mulutnya kemudian tersenyum.
“Semakin bangga aku menjadi generasi muslim. Indah banget Islam itu ya Kak. Sampai hal kecil pun tidak luput dari ajarannya.”

“That’s right my brother.” Jawab Sabil
“Oh iya Kak, tadi kakak juga menyebutkan juga tentang bersin. Itu gimana Kak ?” Rasya penasaran.

“Iya dek, kalau menguap adalah hal yang Allah tidak suka, makanya harus menahannya sebisa mungkin atau menutup mulut tatkala menguap. Kalau bersin, kita di haruskan mengucapkan hamdalah dan orang yang mendengarnya mendoakan.”

“Baca yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu) ya untuk yang mendengarnya, lalu dibalas lagi oleh yang bersin yahdikumullah (semoga Allah memberikanmu petunjuk). Benar tidak Kak ?”

Belum sempat Sabil menjawab, Rasya kembali memberondongnya dengan pertanyaan.
“Kalau ada yang bersin lalu tidak membaca Hamdalah, berarti kita tidak wajib mendoakannya ya Kak ?”

“Benar dek baca doanya seperti itu dan memang tidak wajib mendoakan orang bersin yang tidak membaca hamdalah. Ada hadits seperti ini “Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka datanglah, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah nasihat, jika ia bersin lalu ia mengucapkan alhamdulillah maka doakanlah, jika ia sakit maka jenguklah, jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya [3].”

“Hmmm….”
“Kalau sedang shalat lalu bersin gimana Kak?”

“Di haruskan pula mengucapkan lafazh hamdalah dek.”

“Kalau orang flu kan biasanya bersin-bersin terus tuh Kak. Apa harus terus mengucap hamdalah ?”

“Bersin karena sakit itu beda dek. Untuk pertama kita membaca hamdalah, kalau memang kemudian bersinnya terus menerus yang mengindikasikan flu maka tak wajib terus membaca hamdalah.”

“Oh gitu ya Kak.” Jawab Rasya sembari manggut-manggut.

“Jangan lupa ya dek, menutup mulut jika bersin dan menahan suaranya.”

“Pasti donk Kak, kalau tidak di tutup mulutnya, bisa-bisa ada banjir kiriman lagi…. Hahahahaha…” Tawa Rasya menggelegar.

“… hahahahahaha…” Sabil pun ikut tertawa mendengar penuturan adik semata wayangnya yang kini telah memasuki jenjang SMP kelas satu.

“Kak, aku mau tanya lagi.”
“Apa dek ?”

“Aku bingung nih. Allah tidak suka orang yang menguap tapi Allah suka bersin. Kenapa bisa begitu Kak ?” Tanya Rasya

“Bagus dek. Itu pertanyaan yang bagus sekali. Adik kakak sudah mulai kritis nih.” Puji Sabil kepada adiknya.

“Kakak nih bisa saja. Aku jadi malu…”

“Jawab donk ka pertanyaanku.”
Rasya terlihat tidak sabar mendengar apa yang akan di sampaikan kakaknya yang terpaut usia tujuh tahun dengannya.

“Singkatnya begini dek… Kalau menguap itu biasanya di sebabkan karena makan yang berlebihan, jadi Allah kurang suka makanya di katakan Allah tidak menyukai menguap. Karena makan berlebihan itu menimbulkan kemalasan dalam beribadah. Dan berlebihan adalah hal yang di sukai setan. Tapi kenyataannya kan, menguap itu tidak hanya karena berlebihan dalam makanan bisa juga karena mengantuk. Jadi sebaiknya tahan sebisanya jika menguap dan menutup mulut.”

“…. Terus kenapa bersin itu di sukai Allah, karena bersin itu dapat menyehatkan badan, menghilangkan keinginan untuk mengenyangkan perut dan membuat semangat untuk beribadah [4].”

Rasya manggut-manggut mendengar penjelasan kakaknya.
“ Sip deh Kak. Hari ini aku dapat ilmu baru. Makasih banyak ya Kak.”

“Sama-sama Rasya.”

(Dan keduanya saling melempar senyum)


Catatan Kaki:
1. HR. Muslim
2. HR. Bukhari
3. HR. Muslim
4. www.muslimah.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s